Balai POM di Banyumas menyelenggarakan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Farmakovigilans secara hybrid pada Kamis (21/5/2026) di ruang rapat kantor Balai POM di Banyumas. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kefarmasian, meliputi rumah sakit, puskesmas, dan klinik di wilayah Banyumas Raya.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai POM di Banyumas, Gidion, S.Si., M.Sc. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya penerapan sistem farmakovigilans di fasilitas pelayanan kesehatan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan penggunaan obat di masyarakat.
“Farmakovigilans bukan hanya kewajiban administratif, tetapi bentuk perlindungan kepada masyarakat agar penggunaan obat tetap aman, rasional, dan tepat guna. Peran tenaga kesehatan sangat penting dalam mendeteksi dan melaporkan efek samping obat,” ujar Gidion.
Materi bimbingan teknis disampaikan oleh Miyanto, S.Farm., Apt., selaku Ketua Tim Farmakovigilans–Antimicrobial Resistance (AMR). Pada sesi pertama, peserta mendapatkan penyegaran materi terkait penerapan farmakovigilans di fasilitas pelayanan kesehatan. Materi tersebut membahas pentingnya penguatan sistem farmakovigilans dalam mengawal keamanan obat yang beredar di Indonesia, termasuk berbagai kebijakan dan upaya penguatan yang telah dilakukan.
Miyanto menekankan bahwa tenaga kesehatan merupakan garda terdepan dalam sistem pelaporan efek samping obat. “Laporan KTD dan ESO dari fasilitas pelayanan kesehatan menjadi data penting dalam pengawasan keamanan obat. Semakin lengkap dan berkualitas laporan yang disampaikan, maka semakin baik pula dasar pengambilan kebijakan di tingkat nasional,” jelasnya.
Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan materi mengenai tata cara pelaporan efek samping obat melalui aplikasi E-MESO 2.0. Aplikasi tersebut memberikan kemudahan dan percepatan dalam proses pelaporan, termasuk menerima laporan Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) atau Efek Samping Obat (ESO) dari masyarakat. E-MESO 2.0 juga telah terintegrasi dengan Sistem Keamanan Vaksin dan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kementerian Kesehatan.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi studi kasus pelaporan KTD/ESO melalui aplikasi E-MESO 2.0. Melalui simulasi tersebut, peserta diharapkan mampu memahami alur pelaporan dan dapat melakukan pelaporan secara mandiri.
Melalui kegiatan ini, Balai POM di Banyumas berharap pemahaman dan kompetensi tenaga kesehatan dalam penerapan farmakovigilans semakin meningkat, khususnya dalam pelaporan KTD/ESO melalui aplikasi E-MESO 2.0. Ke depan, kegiatan KIE Farmakovigilans akan terus diperluas kepada tenaga kesehatan maupun masyarakat untuk menumbuhkan budaya pelaporan efek samping obat secara aktif serta mendorong penggunaan obat yang aman dan rasional demi terwujudnya patient safety. (AC)